1916

Jatuh cinta padanya tak pernah salah.


“Hei, dengar!”

Aku membalikkan badan. Kulihat wajahnya dipenuhi peluh bercampur darah. Tatapan matanya sayu, tangannya meraih-raih ke udara putus asa. Hatiku tergerak untuk maju memeluk tubuhnya yang kurus kering seperti ranting pohon. Tapi mungkin ini akan sama saja, aku yang memaksakan diri untuk melindunginya, akan berakhir sama saja.

“…kau pernah berkata tidak akan meninggalkanku.”

Nyeri ini mendadak terasa sampai ke ulu hati. Seharusnya dulu aku tak pernah mengucapkan kata-kata keparat itu. Kalimat yang bahkan muncul dari mulutku dalam keadaan gelap mata. Yeah, perasaan ini membuat aku buta bukan dalam arti harfiah. Aku kacau dan tak bisa menyalahkan siapapun, hanya otakku sendiri.

Jatuh cinta, salahkah bila aku jatuh cinta? Atau haruskah aku hanya jatuh hati dan memendam dalam diam? Haruskah aku menyimpan perasaan ini sampai hilang dengan sendirinya sesuai permainan waktu? Haruskah aku menggunakan lagi perasaan ini kepada orang lain?

Dari semua pertanyaan yang mendistraksi otakku itu, sekarang kusimpulkan bahwa jawabannya adalah ‘ya’.

“Aku tak punya siapa-siapa lagi, aku hampir mati disini.”

Sama, sama sepertiku yang hampir mati putus asa karena gejolak batin yang sepele kata orang. Sama, bahkan hingga tak ada sedikit pun bunyi yang keluar dari pita suaraku, tak sedikitpun kemauan untuk mulut dan lidahku bergerak mengucap sesuatu. Sama, aku merasakan hal yang sama. Merasa mati hanya karena pikiran bodoh, mengharapkan keajaiban yang datang dari langit untuk merubah keadaan.

“Kau anak Koloni Belanda,” Mungkin dia mulai mengutuk segala kediamanku, dan aku tetap diam, biarkan bibirnya merasa puas membalaskan sakit di hatinya. “…walau hanya setetes, jangan keluarkan airmatamu jika aku mati besok pagi. Sampai bertemu lagi.”

Aku tak begitu tolol untuk tahu bahwa dia tidak ingin aku menyesali semuanya. Dan tiba-tiba saja aku tak tahu caranya berekspresi. Tidak pernah terpikirkan olehku, tapi ia, cepat atau lambat akan menemui ajalnya. Tubuh yang rapuh, mental yang lemah. Aku mencintainya karena ingin menjaganya. Dan walau dia pergi, aku ingin tetap menjaga keberadaannya di hatiku karena aku mencintainya.

Sebab, jatuh cinta pada orang pribumi tak pernah salah. Setidaknya, itu yang kupikirkan setiap malam sebelum tidur sambil merasakan jantungku yang berpacu setiap detiknya.

Semua tak pernah salah.

Dan ucapan “sampai bertemu lagi” lebih baik daripada “selamat tinggal”.

Karena dia meninggalkanku di 1916, dan aku ingin kami bertemu lagi di 1917. Aku akan menyusulnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s