9th of June

“Happy birthday, D.”


Kau pikir, aku bisa dengan mudah melupakan semuanya? Aku tak tahu harus berbagi kepada siapa karena aku tak ingin terlihat berlebihan dengan tidak bisa membedakan antara sesuatu yang nyata dan maya.

Dan aku menulisnya, bukan untuk tujuan berlebihan, hanya untuk kau tahu cara pandangku yang (mungkin) terasa tak logis.

Di akhir bulan Oktober, satu setengah tahun yang lalu, semua dimulai sejak saat itu.

Aku bukanlah tipe orang yang mudah melupakan hal yang indah, apalagi sesuatu yang kau berikan tepat di tanggal 31. Aku tak menyalahkanmu, bahkan tak menyesali semuanya. Tapi aku kecewa pada diriku sendiri yang tak bisa menangkap realita.

Seperti cermin, kau bagaikan bayangan yang jatuh dan bersifat maya, hanya dapat dilihat melalui perantara.

Seperti pesawat sederhana, perasaan ini tak kalah sederhana. Dan aku bisa merasakan keuntungan mekanisnya. Bukan hanya bernilai satu atau dua, tapi terlalu banyak hingga otakku selalu dibuat gila karena merasa menjadi seseorang yang paling beruntung di dunia.

Seperti denah, kau menuntunku untuk berjalan lalu masuk tepat ke dasar hatimu. Aku terjebak disana dan bahkan tak ada yang menolongku dari rasa bahagia yang tak bisa dijelaskan. Rasa bahagia yang pada akhirnya membuatku kecewa dan bertanya-tanya mengapa aku harus merasa bahagia untuk suatu hal yang tak pasti.

Kita pernah terlibat pertengkaran, hanya sekali, namun cukup membuatku merasa buruk. Meski hanya sekali, tidak berkali-kali seperti banyak pasangan di luar sana. Kau tahu mengapa? Karena semua ini palsu, hanya tipuan jaringan internet yang terkadang membuatku melambung. Yeah, seperti kata temanku, tak ada bedanya kita menjalin hubungan dengan modem atau wifi dan ponsel juga laptop. Lucu, ‘kan?

Aku tak menyalahkan dirimu, justru aku berterimakasih. Kau membuatku mengerti seperti apa perasaan tak masuk akal yang diidamkanĀ orang-orang. Perasaan yang membuatku melayang-layang dan tersenyum secerah matahari hanya dengan membaca pesanmu disaat pagi. Perasaan yang tak bisa dijelaskan, karena hanya aku yang merasakan, bukan orang lain.

Kau mendistraksi otakku setiap waktu, sampai sekarang, membuatku dengan bodohnya berharap banyak dan merangkai ekspektasi yang berlebih. Ekspektasi yang berlebihan itu seperti mematikan sebagian saraf tubuhku untuk saat ini, hampir menghentikan detak jantungku, hampir membuatku lupa bagaimana caranya menghirup oksigen.

Sesak.

Sakit.

Masih banyak lagi.

Biasanya sebelum terlelap di tidur malam, aku membayangkan kau akan muncul di sekolahku keesokan harinya. Terkadang saat bosan mengerjakan tugas yang diberi guru, aku akan membayangkan kau duduk di belakangku dan belajar dengan tenang.

Hanya seperti itu, hanya sesederhana itu, namun berhasil mempercepat denyut jantungku untuk beberapa menit.

Juga, terkadang aku membayangkan kau berbaring di kasurku disaat aku sibuk berkutat dengan buku di meja belajar. Terkadang aku membayangkan kau duduk bersebelahan denganku di mobil, aku membayangkan kau bertetangga denganku dan kita saling menyapa sebelum berangkat sekolah. Terkadang aku membayangkan–

–banyak hal hingga membuatku ingin menangis.

Kau tahu? Pada intinya aku hanya ingin kita bertemu. Mungkin tulisan ini bisa kujadikan doa kepada Tuhan. Jika aku tak bisa bertatap wajah denganmu, aku berharap suatu saat akan bertemu dengan seseorang yang dapat mengukir kenangan manis seperti saat aku bersamamu. Yang dapat membuatku melambung tinggi, yang dapat membuatku menangis dalam diam sambil membayangkan banyak hal.

I’m crying, D. I’m crying right here, for real.

Dan akhirnya aku memutuskan untuk menghindar sebelum ini terlalu jauh mengiris sebagian jiwaku. Sebelum terlalu jauh merusak hari-hariku. Tapi aku tetap tak pernah bisa lupa. Dan hari ini, aku pun masih tak lupa.

Aku bukanlah gadis jahat yang akan menghujatmu habis-habisan. Tidak, karena aku masih menyimpan ruang kecil untukmu yang akupun tak tahu kapan ruang itu akan tertutup untukmu dan terbuka untuk orang lain.

“Happy birthday, D.”

Terkadang aku berharap aku bisa menjadi kado terindah yang diberikan Tuhan untukmu. Tapi aku sadar dan tahu diri, bahwa masih banyak hal indah lain yang kau dapat secara nyata, bukan secara maya.

Hari ini dan besok adalah hari lahir dua lelaki yang sama-sama pernah mengukir memori manis di hidupku, memori manis yang berakhir menjadi airmata tiap kali aku mengingatnya. Dan aku hanya bisa berkata pada Tuhan.

“Aku mencintainya. Aku menyukai semuanya.”

Benar, seharusnya aku lebih memandang pada dunia nyata, bukannya terpuruk dengan hal tolol bernama dunia maya. Tuhan memisahkan kita karena ini benar, ini hal yang benar.

Be healthy and always happy, D.

Semoga Tuhan memberikan ide yang jauh lebih indah untuk masa depan kita. Aku ingin bahagia, dan aku juga ingin kau tetap bahagia. Kau masih kusebut dalam doaku, kau harus tahu itu.

I miss you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s