Gone

Ombak tak pernah jadi favorit.


Dari lubuk hati yang paling dalam, aku muak melihat desir pasir pantai yang menempel pada kulit telapak kakiku. Kala siang terasa panas, kala malam terasa sama saja, membosankan. Terlebih jika aku berjalan sendirian atau duduk di tebing memandangi matahari yang terbenam dan tenggelam, rasanya sama saja. Sepi itu mendera lagi.

Langit berwarna biru, berawan putih jernih bergerumul membentuk seperti kapas. Seharusnya ada seseorang yang duduk di sampingku melihat luasnya langit, atau menebak-nebak bentuk awan yang mirip tubuh binatang atau wajah manusia. Tapi kenyataan berkata bahwa aku duduk sendiri, dibawah sorotan ultraviolet matahari yang menyengat tipis, merenung membiarkan angin meniup surai hitamku. Tak peduli.

Ombak itu, seperti gerak tarian yang anggun, senada, dan berirama. Aku turun dari tebing dan mendekat ke pantai, ombak kecil menggelitik telapak kaki hingga tungkai. Aku tersenyum, ditemani oleh halusnya sapuan air yang terasa menyenangkan. Dan ketika aku memejamkan mata, kurasakan sesuatu yang menarikku, memelukku, terlihat segar dan biru, dan aku tak bisa menghindar. Ombak ini, diatasnya aku terombang-ambing seperti kertas, tuliskan ucapan selamat tinggal pada semua orang yang panik di pinggir sana. Karena kupikir, segalanya sudah jelas.

Desiran pasir tak menghilangkan sepi.
Langit pun tak peduli.
Ombak tak pernah jadi favorit.
Karena aku sendiri, pergi pun kusendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s