Never the Same

Senyumku tak akan pernah sama lagi.


Seperti yang sudah pernah kutuliskan, ada saatnya aku bosan dan lelah. Merasakan gejolak aneh yang tiap kali datang, aku benci tubuhku yang rasanya hampir beku ketika melihatmu. Aku kesal dengan diriku yang bingung berekspresi, bingung akan melakukan apa, rasanya senyum ini terlihat seperti senyum terkonyol yang dimiliki seorang manusia.

Karena perasaan remaja ini tak kalah konyol.

Aku berguling-guling di tempat tidur siang dan malam, mengabaikan tugas harian sekolah hanya untuk memastikan notifikasi pesanmu muncul di ponselku. Lalu aku bergerak ke meja belajar dengan hati riang, berharap kau menunggu balasanku disana seperti aku menunggu pesanmu datang.

Tapi yang tak aku sadari, apakah kau menunggu? Atau kau punya teman lain yang lebih tidak membosankan dibanding aku?

Aku bergerak dari kursi belajarku dan berbaring. Jariku mengetikkan sesuatu yang kupendam selama beberapa hari. Aku berdoa pada Tuhan dimana ada saatnya, aku dapat melupakan bagaimana rasanya remaja yang jatuh cinta. Karena ini konyol. Segala hal tentang dirimu mendistraksi otakku. Semua yang kita bicarakan di chatroom, bagimu mungkin hanya percakapan biasa dengan teman sebaya. Tapi tak mungkin kau sadar dan mengerti, setiap kata yang kukirim, aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari itu.

Mungkin aku bukanlah seseorang yang cocok, atau justru seseorang yang lebih pantas dijadikan teman. Dan sangat klise ketika aku mengatakan, “Aku menyukaimu, tapi kau tidak pernah sadar.” Kau yang tidak peka, atau salahku yang tidak pernah mengungkapkan?

Aku lelah jatuh cinta. Tubuhku lemas tiap kali memikirkan kau nyatanya tak pernah datang ketika aku butuh. Tubuhku limbung ketika aku lagi-lagi merasakan sakit hati, mengapa balasan untuk perasaanku ini tak secepat balasanku terhadap pesanmu? Dan lagi-lagi aku mengerti, aku tak mungkin menodongmu dengan pisau atau bom nuklir agar kau dapat balik menyukaiku.

Maka dari itu aku ingin menyerah.

Menyerah adalah satu diksi yang kubenci. Tapi apalah daya, aku lebih membenci diriku yang ternyata jatuh hati pada orang yang salah. Aku lebih membenci diriku yang tak pernah fokus pada hal yang lebih penting dan sibuk mengetik rangkaian paragraf ini demi mengutarakan perasaan yang tak bisa kukatakan pada orang lain terlebih dirimu. Ketika suatu hari kau membaca tulisanku dan menyadari bahwa tokoh utama disini adalah kau, yakinlah satu hal bahwa,

Aku membenci semua perasaan yang pernah kurasakan padamu. Aku benci semua kenyamanan sesaat itu. Aku benci telah menceritakan sekilas hidupku padamu. Aku benci semuanya!

Aku pun tak pernah menyangka perkataanmu semakin lama selalu menggoreskan luka khianat yang tak pernah sedikitpun kubayangkan. Aku memiliki masalah dengan hidupku, aku menjadikanmu penghibur hari-hariku yang datar, tapi sekarang aku mulai sadar kau hanya menganggapku orang yang kesepian dan tak pernah memandang masa depan.

Terimakasih, setidaknya aku mengerti siapa orang yang membantuku berdiri dan siapa orang yang hanya membuatku merasa semakin kecil di dunia ini.

Dan ketika aku telah merasakan sakit itu, ketika kau katakan sesuatu yang menimbulkan sebuah goresan pada hatiku yang rapuh dan sekuat tenaga kujaga.

Ingatlah kau, senyumku tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ramahku tak akan pernah sama lagi seperti yang kau tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s