Dumb

Kau dan aku, merasakan hal yang sama.


Aku melihat orang-orang jatuh, terjerumus, merasakan perih di kakinya, dan tak ada yang menolong walaupun ia telah berteriak. Aku melihat bayangan diriku sendiri, ketika aku menjadi seseorang di level paling bawah. Disaat itulah aku akan bertanya pada Tuhanku,

Mengapa?

Aku sudah pernah. Tangisanku saat itu adalah tangisan pilu. Merasakan sekelilingku tak pernah memberikan sesuatu yang adil, setidaknya untuk menghargai diriku. Aku sudah pernah, dan teramat hancur ketika aku melihat rekaman itu terputar lagi, di orang yang berbeda. Aku melihat diriku sendiri.

Tak banyak yang tahu tentang keadaanku. Namun ketika aku melihat orang lain merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan dulu, aku merasa menjadi seseorang paling pintar karena berhasil melewati segalanya tanpa ingin memutus hidup.

Namun nyatanya aku masih sama bodohnya. Nyatanya aku masih sama dungunya.

Bukannya aku tak bersyukur, Tuhan. Saat ini, kau menaruhku di tempat paling tengah dari segala tempat. Bahkan kepalaku harus merasa pening terlebih dahulu untuk memilih, haruskah aku menengok ke atas atau ke bawah. Terkadang aku merasa sakit hati melihat atasku, mengapa orang-orang dengan mudahnya mendapatkan apa yang ingin kudapatkan? Mengapa aku masih terpuruk, tak bisa menjadi salah satu dari mereka? Mengapa, dengan diriku yang sama, tapi mereka meraih segalanya sedangkan aku terseok-seok di tanah. Aku masih merasakan itu, Tuhan. Dan aku semakin tak kuat jika menengok ke bawah, dimana orang-orang berusaha menggapaiku meminta bantuan, namun aku juga tak punya cukup kekuatan untuk menjadi bijaksana. Karena bagaimanapun, apapun hal yang kukatakan dan kulakukan, aku munafik. Aku masih sama bodohnya, tak ada yang berubah.

Aku sadar aku bodoh, aku sadar sudah seribu kali terinjak. Tapi jika aku tetap terpuruk seperti orang bodoh, maka aku lebih rendah dari apapun.

Biarkan ketidak adilan menghujam nadiku. Menyiratkan dendam di lubuk hati. Karena siapa yang tidak pernah mendendam? Karena siapa yang tidak pernah dibuang dan disisihkan?

Kau dan aku, merasakan hal yang sama.

Maka satu hal yang perlu kau lakukan adalah ikuti alur.

Dunia itu kejam, sekejam ucapan dan tindakan manusia egois diluar sana.

Aku sudah pernah. Yang bisa kulakukan adalah menertawainya, dan membalasnya dengan cara cerdik, halus. Tanpa siapapun tahu, aku menyiapkan pedang di belakang punggungku. Karena aku harus memperbaiki kesalahan menjadi sesuatu yang benar.

Namun untuk saat ini, takdir hanya ingin mempermainkanmu, sayang. Kau harus bertahan, atau kau dicurangi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s