Hate

Aku dipaksa bangun dan bangkit dari tanah, mengulang semua dari nol.


Malam ini, aku, membenci dan mencintai hidupku di waktu bersamaan. Malam ini, aku, memeluk perasaan-perasaan sedihku menjadi satu. Tak berniat meneriakkannya namun dada ini terlalu sesak. Seperti ada sesuatu yang membuncah, seakan-akan aku tidak mengenal diriku sendiri. Apa aku masih berguna? Apa aku hanya sampah hidup? Atau benalu yang diinginkan kepergiannya?

Aku takut dengan adanya aku, banyak orang yang kehilangan harapannya. Tak terkecuali orang-orang yang membesarkan aku. Jujur, aku tidak tahu bagaimana Tuhan akan membawa nasibku nantinya. Aku tidak mengerti dan menebak rasanya percuma. Aku penasaran lagi, namun gagal lagi menebak. Dan disaat itu terjadi, aku bertanya dalam hati, apa gunanya aku disini?

Tak ada hal yang bisa dijadikan alasan untuk meredakan diriku disaat seperti ini. Pada siapapun, aku tak bisa membagi yang satu ini. Apa yang kurasakan hanyalah secuil pikiran kotor anak kecil menurut orangtuaku. Pikiran yang tak dapat berkembang, pikiran yang harus dipaksa terbuang, tanpa tahu mana tempat sampah yang cocok untuk membuangnya. Apa yang kurasakan mungkinlah sesuatu yang tak dapat dipahami sahabatku apalagi sekedar temanku. Sebab mereka tidak mengalami hal yang sama sepertiku dan berpikiran terlampau sederhana. Semua orang terasa tak berguna.

Aku merasa berdosa ketika berpikir hidupku gelap, tak ada lampu yang menyala satupun, atau dinding untuk berpegang. Setiap kali aku bersujud, aku mengharapkan sesuatu bernama ketenangan. Namun bahkan untuk berdoa saja terkadang aku tak mampu. Airmata ini tumpah lebih dulu. Dan yang bisa kulakukan hanya berharap Tuhan tahu apa yang kurasakan tanpa harus kukatakan. Aku berharap hidupku berubah, atau paling tidak kembali seperti dulu. Tapi untuk merubahnya saja membutuhkan ratusan liter airmata, timbunan emosi, dan ledakan di kepala. Aku tidak tahu, apakah aku mampu atau tidak.

Setiap kali aku menatap langit-langit kamar, aku bertanya, apakah bisa ruangan kecil ini menjadi lebih lebar seperti dulu? Apakah bisa aku duduk di mobil sambil mendengarkan lagu-lagu aneh ayahku yang baru didownload semalam sambil mendengarnya bergumam pelan? Apakah masih bisa aku merasakan kemacetan di jam 6 pagi? Apakah masih bisa aku bercanda dengan teman-temanku di kantin sekolah sampai siang hari tanpa telepon genggam? Apa masih mungkin orang itu datang lagi, memberi perhatian lebih seperti dulu, dan tetap membuatku tersipu walau hari-hari sedang kacau? Apa masih bisa aku terjaga hingga tengah malam hanya untuk membalas pesannya? Apa masih bisa? Apa aku perlu merubah sesuatu? Aku bahkan tidak menemukan jawaban sama sekali.

Aku tidak menyesal dengan perubahan hidup drastis yang kualami. Sesaat aku merasa lebih dewasa, namun sesaat aku merasa munafik. Aku tetap aku. Yang tak pandai bersyukur, yang masih berpikiran seperti anak-anak, yang tak bisa memahami dirinya sendiri, yang masih banyak menyusahkan tapi selalu meminta lebih. Kalau seperti itu, apa masih mungkin aku bahagia?

Aku lelah. Semua yang kulakukan sekarang seperti tanpa arti. Aku dipaksa bangun dan bangkit dari tanah, mengulang semua dari nol. Dan kini aku merangkak, tanganku terantuk batu, kakiku terbakar tanah yang terkena terik matahari, kepalaku pusing seperti mau pecah, mataku silau tak dapat melihat apapun, parahnya tak ada yang menolong. Dengan segala keraguan, apakah aku masih sanggup berdiri, setengah hatiku berkata untuk berhenti memaksa diri, namun setengahnya lagi memaksa untuk bergantung pada nasib dan masa depan. Dan aku hanya berharap, Tuhan memilihkan sesuatu yang tepat untukku sekarang dan nanti.

Apa yang sudah hilang dalam diriku tak dapat digantikan dengan dollar. Maka terkadang aku ragu dan takut, apakah aku dapat mengembalikan atau setidaknya mengganti sesuatu yang hilang tersebut? Atau malah aku akan kehilangan lagi jika aku tetap merangkak?

Sometimes I hate my life, sometimes I love it until the level I will be happy in temporally time. I can not shout anything out, cut everything off, because I’m afraid, God would be over worried of me, regreted with me, and left me with unlucky fate because I still can not understand how to say thankyou.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s