Expectation

“….masih menyimpan seseorang yang sama di dalam hatimu?”


“Kau masih tidak berubah.”

Aku menoleh malas pada seseorang di sampingku. Mungkin aku sudah pernah mendengar tujuh ratus dua puluh satu kali ia mengatakan kalimat yang sama untuk mengomentari keadaanku. Oh, dia lupa, sahabatku ini lupa, kalau aku sangat lemah dalam hal mengapus seseorang. Kalau begitu, dia juga tidak berubah, kan? Masih suka lupa.

“Syukurlah. Badai, hujan, dan petir tidak merubah perasaanku secuilpun.”

“Berlebihan.”

Aku tertawa, dia nampaknya masih acuh dan memilih sibuk dengan ponselnya. Aku mengedikkan bahu, dia selalu begitu. Kami bersahabat sejak beberapa tahun yang lalu. Mungkin sudah tiga tahun? Empat? Lima? Aku tidak begitu menghitung sudah berapa lama kami menempel seperti anak kembar tak identik. Yang kuhitung adalah berapa kali kami pernah berpacaran sepanjang history percintaan masing-masing.

Aku satu, dia juga satu.

Oh ironis. Padahal kami cantik, tipikal mahasiswa pintar yang banyak membantu penelitian dosen. History percintaan kami tidak terlalu buruk. Well, at least memiliki pengalaman. Namun parahnya pengalaman itu berujung sama, ditinggalkan oleh masing-masing pasangan. Itu buruk, sungguh. Karena hari-hari kami dahulu dipenuhi kelabu sejak saat itu. Dan kami memutuskan untuk menutup pintu hati.

Yeah, itulah yang membuat history percintaan kami tidak pernah mengalami kemajuan.

“Omong-omong,” dia menurunkan ponselnya dan menatapku, “bagaimana rasanya….” dan kalimatnya menggantung di udara.

Aku mengernyit, “Apa?”

“….masih menyimpan seseorang yang sama di dalam hatimu?”

Aku semakin mengernyit, ditambah memicingkan mata sekarang. Namun tak beberapa lama kemudian aku tahu apa yang dimaksud anak ini. Aku mengerti ia sudah melupakan mantan kekasihnya habis-habisan sejak beberapa bulan setelah insiden putus cinta itu dan sahabatku satu ini merasa iri akan bagaimana diriku yang bahkan masih menyukai seseorang di masa lalu yang entah sekarang berada dimana.

“Mengapa bertanya begitu?”

“Ck,” dia bersedekap tangan, “alasannya cukup logis, karena kau seharusnya tidak mengungkit hal sekecil apapun dari masa lalu yang tidak bisa terulang lagi. Tapi kau bahkan memutarnya berulang-ulang di otakmu seperti kaset rusak dan pada akhirnya jatu cinta lagi dan lagi pada orang yang sama seperti di masa lalu layaknya orang yang menyimpan kesetiaan. Bukankah itu luar biasa? Maksudku, kau makhluk aneh yang mengartikan stuck dengan setia.”

Pft, dia mengolok-olokku lagi.

“Sudahlah, apa salahnya berharap? Kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi, kan? Barangkali setelah ini ada kiriman bunga ke rumahku dan ternyata berasal dari orang itu.” Oh Tuhan, membayangkannya saja membuatku tersenyum jenaka seperti spongebob.

“Bermimpi saja kau. Kusarankan untuk mencari yang lain.”

“Kuterima saranmu, namun belum bisa kuikuti sekarang.”

“Terserah.”

Well, kami bagaikan manusia kembar tak identik yang tidak pernah akur.


Setelah mata kuliah paling menyeramkan ini selesai, aku keluar ruang kelas dengan sedikit linglung karena pusing. Akhir-akhir ini anemia menyerangku, membuat kepalaku terasa seperti dijatuhi batu besar. Ketika aku mulai tidak seimbang dan berjalan merepet ke tembok untuk menjaga keseimbangan tubuh, sahabatku datang dan menggandeng lenganku berniat menuntun. Ia mengajakku pergi ke kantin, dan mengomel seperti ibu tiri ketika tahu aku belum sarapan sejak pagi.

“Kalau kau sakit begini, apa yang harus kukatakan pada ibumu jika beliau menelepon? Ibumu pasti khawatir. Sudah tahu ada kelas siang kenapa tidak sarapan, sih?”

“Kau sendiri tidak datang ke kosku untuk membuatkan makanan. Aku kan tidak bisa masak.”

Dia memutar bola mata, “Oh ayolah, bukankah sudah kuajari sebuah resep beberapa hari yang lalu?”

“Ya, tapi bahan-bahannya terlalu kompleks. Di kulkasku minim bahan mentah, fyi.”

“Kau bisa membeli makanan jadi di sekitar tempat kosmu.”

“Malas keluar.”

“Makan saja malasmu itu, sakit saja terus sampai menjelang hari skripsimu. Aku tidak peduli.”

Aku cemberut, anak ini posesifnya mengalahkan ibuku. Dan ketika pesanan datang ke meja kami untukku, aku memandang isi piring di depanku. Bagaimana bisa anak ini memesankan makanan paling enak di kantin juga beberapa roti?

“Jangan hanya dipandangi saja, makanlah. Roti itu simpan untuk di rumah sebagai pengganjal lapar atau kalau kau habiskan sekarang juga tidak masalah. Santai saja, kutraktir kau hari ini.”

Aku tersenyum senang dan berucap, “Terimakasih,” lalu menyambar sendok.

Tak lama kemudian, ponselku berbunyi tanda telepon masuk.

Ibu.

Oh, kenapa ibu menelepon juga? Aku sudah diomeli manusia di depanku ini karena sakit, apa ibu akan mengomeliku juga? Tapi omong-omong, bagaimana ibu tahu kalau aku sedang sakit?

Pada akhirnya aku mengangkat telepon dengan waspada.

“Halo?”

“Hai, Dear, bagaimana kabarmu? Ramai sekali kedengarannya, kau sedang makan di kantin?”

“Ya, apa suaraku kedengaran seperti sedang mengunyah sesuatu?”

“Tidak mengunyah pun aku bisa tahu.”

“Ah ya, oke, oke. Omong-omong, ada apa menelepon?”

“Kau tahu? Pagi tadi aku dikejutkan dengan kiriman buket bunga yang entah dari mana.”

“Eum, mungkin itu dari partner kerja ayah? Ucapan terimakasih, mungkin?” Tunggu, mengapa tidak masuk akal begitu?

“Tidak. Disitu tertulis ditujukan kepadamu, tapi tidak tertulis siapa pengirimnya. Apa kau sedang berpacaran disana?”

Dan seketika aku tersedak sayuran yang baru kutelan.

Dear, kau apa kau baik-baik saja?”

“Tidak—oh ya, aku baik-baik saja. Maksudku—bunga? Are you serious?”

Tidak, sebenarnya bukan soal bunga, tapi soal rumahku. Pengirimnya mengirimkan bunga ke rumahku. Selama aku berkuliah di daerah yang jelas-jelas berbeda kota dengan tempatku berdomisili dulu, belum ada satupun teman-temanku yang berkunjung ke rumah. Mungkin yang tahu rumahku saat ini hanya sahabatku dan……mantan pacarku.

I’m serious. Apa….ini dari mantan pacarmu? Disini dia menulis namamu dengan tulisan tangannya. Yeah, aku sepertinya masih ingat tulisan tangan anak itu.”

Oh Tuhan! Lelucon macam apa ini?!

Kepalaku makin terasa pusing dan rasanya ingin sekali memuntahkan semua makanan yang masuk ke perut.

Dia……mengirim bunga? Untuk apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s