Thank You

Untuk satu atau dua tahun ke depan, aku tak ingin memulai lagi cinta rumit dan mengesalkan.


“Aku hanya berharap ia melingkari angka dua puluh tujuh di kalendernya. Walaupun tak mungkin mengucapkan apapun padaku, hanya mengingat apa yang terjadi di tanggal dua puluh tujuh, itu sudah cukup.”

Gadis itu menghela napas berat, mungkin sudah kesekian kalinya ia lakukan. Tubuhnya terasa lemas, ia jatuh terduduk ke lantai dengan punggungnya menatap ke tembok. Sudah banyak airmata yang ia tumpahkan selama satu tahun terakhir, maka hari ini ia tidak ingin menitikkannya lagi barang setetes. Apapun yang terjadi, sekeras apapun ia melupakan rasa perih di hatinya, ketika ingatan itu muncul lagi, gadis itu tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa ada bekas luka sayat disana.

“Aku masih ingin berada di ingatannya. Apa tidak bisa?”

Ia paham bahwa dirinya hidup dengan harapan-harapan kosong melambung di udara. Bagaimana ia meyakinkan dirinya sendiri tentang seseorang yang akan kembali, karena waktu tak akan membunuh sesuatu tanpa arti. Dan penantian kosong ini pasti memiliki arti. Setidaknya dia percaya bahwa masih ada sebuah keinginan yang bisa terkabul.

Lelaki itu berlutut di hadapannya, berkali-kali melihat gadis di hadapannya jatuh ke tanah dengan kondisi hati mengenaskan. Ia tidak pernah menemukan ide untuk melakukan sesuatu. Maka dia hanya diam disana, menatap gadis itu diantara perasaan sedih dan khawatir.

“Mengapa kau masih suka hidup bersama khayalan tak masuk akal tentang seseorang jauh disana? Mengapa kau tak bisa membuka matamu, atau setidaknya sadar, bahwa kau mengharapkan seseorang yang bahkan tak pernah melihatmu sekalipun? Lalu bagaimana bisa ia mengerti keadaanmu saat ini? Bagaimana bisa ia mengingatmu?”

Hening diantara mereka. Pertanyaan itu seperti sebuah pisau yang menancap tepat di lubuk hati gadis itu.

“Mengapa kau mempertanyakan itu?”

“Karena kau salah, dan aku lelah mencari berbagai alasan untuk membenarkan kesalahanmu.”

Satu helaan napas kasar. “Kalau begitu pergilah, aku lebih lelah menerka perasaanku sendiri.”

“Bagaimana bisa aku meninggalkanmu dalam kondisi begini?”

“Mudah saja, ‘kan? Bukankah semua orang bisa dengan mudah datang dan pergi?”

“Jangan berharap aku adalah orang yang seperti itu.”

Gadis itu tak mau peduli lagi. Ia memejamkan mata, menenangkan hati namun yang ada buliran air bening turun dari matanya. Dia gagal menghibur dirinya sendiri. Ia gagal meredakan perasaannya. Semua yang usaha yang dilakukannya benar-benar gagal.

“Sebenarnya aku tidak punya hak untuk berkata macam-macam. Aku pun tidak ada hak menghapus airmatamu, atau memutar balikkan perasaanmu. Yang bisa kulakukan hanya melihatmu dan menunggu hingga kau tak lagi menangis untuk orang lain, hingga perasaanmu tak lagi jatuh pada orang lain, orang itu.”

Gadis itu membuka matanya, menatap lelaki di depannya. Mencari sebuah kepercayaan dari sorot mata seseorang, karena selama ini sebuah kepercayaan tak bisa didapatkan dalam hitungan detik. Jatuh hati lagi bukanlah sesuatu yang mudah.

“Ketika kau beranjak dari satu tahun ke tahun berikutnya, itu berarti kau diberi kesempatan menjadi dewasa dan memahami dirimu sendiri. Oleh karena itu aku tidak memaksa apapun, tidak meminta apa-apa. Tapi cobalah untuk merasa bahagia, dengan ada-atau-tidak-adanya orang itu. Karena memang nyatanya ia tak ada. Yang ada hanya aku, atau orang-orang di sekitarmu yang akan mengucapkan selamat untuk umurmu yang akan bertambah. Dan kau patut menghargai mereka, seperti aku yang selalu menghargai hatimu yang sulit berpindah.”

Sebenarnya berpindah bukanlah sesuatu yang sulit, apalagi melupakan. Namun menangkap kehangatan dari mata seseorang yang lain, itulah yang tak mudah dilakukan.


Untuk satu atau dua tahun ke depan, aku tak ingin memulai lagi kisah cinta rumit dan mengesalkan. Aku cukup menyadari bagaimana hatiku jatuh berkali-kali, dan merasa sakit lagi dan lagi. Untuk satu atau dua tahun ke depan, biarlah aku menemukan kegiatan lain yang dapat dilakukan oleh hati kecuali jatuh cinta dan tersakiti. Aku bukanlah seseorang yang kaku, aku mengerti semua situasi, tapi aku menjaga hatiku sendiri agar tidak jatuh dan jatuh lagi pada lubang yang salah.

Aku tahu perpisahan kita mengandung arti lain. Aku ingat semua hal ketika kau menginginkan diriku bahagia, kembali pada kehidupan dimana diriku selayaknya tinggal, karena memang tak ada yang bisa diharapkan lagi dari kita. Mungkin saja kau sudah bosan dan ingin kehidupan privasimu kembali seperti sedia kala. Ketika aku bertambah dewasa, aku sadar perasaan cinta seorang remaja rentan seperti kita yang dulu akan hilang, berganti dengan perasaan aneh yang permanen seperti yang kurasakan saat ini. Seperti balon yang butuh udara agar bisa berkembang, maka hatiku juga membutuhkan cinta yang dapat kusimpan dan berkembang untuk orang yang sama, atau mungkin orang yang berbeda nantinya. 

Untuk satu atau dua tahun ke depan, aku tak ingin memulai lagi cinta rumit dan mengesalkan. Hanya membiarkanmu tetap di dalam hatiku, aku merasa hidup dan duniaku berkumpul menjadi satu kembali.

Kita telah berusaha melupakan satu sama lain, hanya berbeda padamu yang berhasil dan aku yang gagal. Biarkan umurku bertambah, namun hatiku tetap sama. Maka ketika kau pulang, kau akan menemukan rumah yang sama nyamannya seperti setelah kau membangunnya. Kalaupun kau tak pulang, mungkin rumah ini akan kuberi pada orang lain yang dapat menjaga kenyamanan itu agar tetap sama.

Terimakasih pernah memberikan perasaan aneh tak kasat mata ini. Terimakasih telah menjadi dewasa dengan melepaskan semuanya. Dan terimakasih telah membuatku menaruh hati pada tempat yang benar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s