Milk in the Night

“Ditinggalkan oleh seseorang itu sangat menyakitkan.”

“Salah paham dengan seseorang itu lebih menyakitkan.”

“Oh God, itu cuma hal biasa.”

Napas keras Sehun menghembus ke udara, tak peduli malam sudah semakin larut namun ia masih berada disana, di atas kap mobilnya bersama seorang perempuan manis, sahabatnya. Di tengah-tengah mereka terdapat satu kantong plastik besar berisi bermacam ukuran kotak susu. Oh tidak, Sehun bukan anak kecil yang suka minum susu ketika patah hati, namun sahabatnya inilah yang seperti anak kecil terperangkap di tubuh gadis dua puluh empat tahun.

“Lebih baik pergi sana ke club dan menghibur hatimu daripada mabuk susu seperti ini. Kau sudah muntah lima kali, Irene.”

Gadis itu tak bergeming, sibuk membuka satu kotak susu vanilla dan diteguk cepat-cepat. Reaksi mual menyusul setelahnya dan muntah untuk keenam kalinya. Sehun bersumpah ia akan menemui banyak bekas muntahan susu di bawah ban mobilnya.

Sehun tidak sabaran, ia meraih kotak susu yang ada di tangan Irene dan membuangnya ke jalanan. Perempuan dengan rambut coklat sepunggung itu hanya memutar bola mata, kemudian membuka satu kotak susu lagi dari kantong plastik dan meminumnya. Tentu saja dia mual, tapi kali ini tidak mengeluarkan muntahan ke tujuh. Sehun menghela napas lelah, ia sendiri menahan dirinya untuk tidak mengambil kotak rokok di sakunya karena rokok adalah sesuatu yang dibenci kekasihnya.

“Aku tidak mengerti, patah hati membuat kita begini.” Gadis itu menyeletuk, disusul tawa remeh dari bibirnya, lalu meneguk susu coklat di tangannya.

“Bukan kita, tapi cuma kau, Nona.” Sehun membalas.

“Cuma aku? Lalu kenapa kau tidak mengambil kotak rokok dan pemantikmu? Pacarmu ‘kan tidak ada disini.”

“You are a badgirl, for sure. Don’t persuade me.”

“Yes, I am.”

Sehun sudah mengenal gadis ini bertahun-tahun. Irene tidak pernah sedepresi ini sebelumnya. Berhubungan dengan seorang lelaki yang tidak tepat membuat gadis ini berantakan secara perlahan. Begitupun dirinya, pertengkaran dengan kekasih yang menjadi makanan sehari-hari semakin lama membuatnya jenuh. Tapi Sehun tidak tahu cara mengakhiri kisah cintanya sendiri.

Irene akhirnya muntah untuk yang ketujuh kali, Sehun hanya menunggu gadis keras kepala ini mencapai muntahnya yang keseratus kali kalau dia tidak berhenti meminum susu itu. Oh Tuhan, menghabiskan uang di dompet hanya untuk beli susu, Irene benar sudah gila.

“Ayo ke club. Aku tidak tahan melihatmu begini.”

“Tidak mau, kau bakal mengajakku minum vodka. Aku tidak mau mabuk disana.”

“Tapi kau mabuk disini, jadi sama saja.”

“Bisakah kau membantuku berhenti datang ke tempat semacam itu? Kau hanya mengingatkanku pada mantan pacar brengsek yang setiap malam mengajakku kencan disana. Maka dari itu aku memilih mabuk susu ketimbang mabuk alkohol.”

Sehun mengacak-acak rambutnya frustasi, teringat sudah akan pacarnya yang melarang habis-habisan dirinya pergi ke club setelah Sehun mabuk parah dan mengidap tukak lambung beberapa bulan yang lalu. Sehun tahu itu semua demi kebaikan hidupnya, tapi ia jenuh dengan keseharian yang membosankan. Namun pacarnya akan marah-marah jika sekali saja memergokinya merokok atau masuk ke dalam club bahkan hanya untuk mendatangi perayaan ulang tahun temannya. Dan Sehun lebih memilih mengalah daripada pacarnya menjadi berisik ketika mengomel.

Irene mengelap mulutnya menggunakan punggung tangan. Ia menghabiskan dua puluh kota susu, delapan kotak dengan ukuran jumbo dan Sehun tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan perutnya. Irene tiba-tiba saja berhenti minum dan menerawang ke langit. Mata itu sedikit merah karena terlalu banyak batuk juga muntah.

“Kalau kau mau pergi ke club, pergi saja sendiri. Pacarmu tidak akan tahu, ‘kan?” tanya Irene.

“Tidak mau,” jawab Sehun cepat.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Irene menghela napas panjang, “Ketika kau membenci seseorang, kau berusaha menghapus semua hal yang berhubungan dengannya karena akan fatal apabila kau mengingat orang itu lagi dan hidupmu hancur perlahan. Mungkin selama ini, sesuatu yang pacarku berikan semuanya adalah hal yang tidak seharusnya kuterima, maka dari itu ketika ia pergi, aku membuang semua hal itu jauh-jauh dan memperbaiki diriku sendiri meskipun dengan cara yang sungguh lambat,” Irene mengalihkan pandangannya menuju Sehun. “…sedangkan dirimu, pacarmu adalah seseorang yang patut dihargai namun kau tidak mau menuruti perkataan benarnya, jelas saja kalian bertengkar setiap hari. Kalau aku jadi kekasihmu, mungkin aku sudah membiarkanmu merokok sampai lupa makan dan mabuk setiap malam. Mengomel itu melelahkan, fyi. Dan toh jika kau mati perlahan-lahan karena tukak lambung, aku akan menangis saat kau dikubur lalu mencari kekasih lain sepulang dari pemakaman. I think—life is simple but you need to follow the procedure.”

Irene tidak peduli ketika Sehun meresponnya dengan memutar bola mata.

Stop berkata aneh-aneh. Kau membuat hidupku terlihat menyeramkan.”

“Lalu mau bagaimana? Jika kau mati, lebih baik aku mencari kekasih lain yang mau menurutiku demi kebaikannya. Benar, ‘kan? Tapi nyatanya kekasihmu masih terlalu cinta padamu hingga menjagamu seperti menjaga anaknya sendiri.”

Hening diantara mereka berdua. Irene masih memandangi Sehun yang menerawang ke jalanan. Hati gadis itu kosong melompong, seakan perih yang ada di bantinnya tak terasa lagi, namun nyatanya ia mati rasa. Dua sahabat itu memiliki permasalahan sendiri. Irene yang terlalu baik memberikan hatinya pada orang yang tidak benar, dan Sehun yang menyia-nyiakan kebaikan orang yang mencintainya dengan tulus.

Bagi Sehun memperbaiki diri bahkan lebih sulit daripada mengerjakan ujian mata kuliah, lelaki itu mendesis kesal. Dia mengambil sekotak rokok dan pemantik di sakunya, kemudian melemparkan dua benda itu ke sampah dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya meraih kota susu ukuran besar yang tersisa satu. Sehun meneguknya seperti orang gila, dan memuntahkannya beberapa detik kemudian karena tidak biasa minum susu juga lambungnya sudah tidak bisa menerima makanan atau minuman dalam jumlah besar.

Irene hanya tersenyum, tangannya ikut membuka kotak susu yang terakhir. Ia hanya bisa berharap hidupnya dan Sehun seputih susu vanilla, seenak susu coklat, dan semanis susu stroberi.

Kalau boleh begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s