I Want to Know

Aku cuma ingin menertawaimu ketika semua hal akan tersimpan dalam kaset rusak.


“Kau pikir itu tidak mengerikan? Tiba-tiba saja moodku turun drastis hari ini.”

“Kau itu bicara apa, sih? Aku tidak melakukan apa-apa.”

Stop bicara omong kosong dan sok polos. Kau pikir aku bodoh? Atau kau menganggapku bodoh?”

“Terang-terangan saja kalau bicara! Sungguh aku tidak mengerti.”

“Yang seharusnya terang-terangan itu kau! Kutanya sekarang, apa yang kau sembunyikan dariku?”

“Aku tidak menyembunyikan apa-apa! Mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu darimu.”

“Oh ya? Bagaimana dengan urusan hati dan—si pangeran berkuda baik hati itu? Kudengar kau sukses jadi tambatan hatinya.”

“Maksudmu?”

“Oh, kau sok polos lagi.”

“Tidak—bukan begitu—maksudku, kau dengar darimana?”

“Benar, ‘kan? Kau menganggapku bodoh.”

“Serius, kau dengar darimana?”

“Apa penting aku mengatakan dengar darimana? Memangnya siapa yang kau beritahu duluan? Kau tidak ingat? Atau pura-pura lupa?”

“A—aku—”

“Percaya pada kebohongan memang sia-sia, ya.”

“Bukan begitu….”

“Lalu apa? Kau hanya membuatku bingung. Kau berlagak segalanya baik-baik saja. Kau memuji-muji dia seperti dewa, mengatakan seribu satu kebaikannya hingga aku ingin muntah. Well, awalnya aku senang kau menemukan seseorang yang benar, tapi segalanya menjadi tidak benar ketika kau mulai berbohong.”

“Aku hanya tidak ingin kau tahu!”

“Mengapa kau tidak ingin aku tahu?!”

“Karena kurasa—semuanya berjalan tidak benar. Aku merasa tidak bisa menunjukkan yang satu ini padamu. Tidak bisakah aku menyimpannya dan kau tak perlu tahu hubungan anehku lalu kita baik-baik saja seperti sebelumnya? Ini hanya one side profit, sungguh.”

One side profit, tapi suatu hari kau akan luluh juga.”

Okay, aku luluh. Tapi kau tidak harus tahu, ‘kan?”

“Kenyataan kau lebih memberitahu orang lain membuatku sakit hati. Serasa sia-sia apa yang kulakukan selama ini sebagai seseorang yang mengerti dan membantumu. Seharusnya aku tidak tolol, hati manusia mana tahu.”

“Ayolah, aku tidak suka seperti ini, semuanya sudah terjadi. Dan aku pun punya alasan!”

“Apa?”

“Kau tak pernah respect soal ini.”

“Bagaimana aku bisa respect kalau semuanya adalah salah?”

“Lihat, mindsetmu seperti itu. Bagaimana aku bisa mengatakan ini terang-terangan?”

“Lalu kau tidak mencoba mengubah mindsetku, huh? Belajarlah dari masa lalu, apa semuanya benar? Tapi kau mengatakan semua hal dan aku bisa memilah mana yang benar dan salah. Kalau begini, kau hanya menanamkan bad mindset dalam otakku selamanya tentang dia.”

“Ya sudah kalau begitu. Itu kan dirimu. Aku memiliki kehidupan sendiri yang akan kujalani. Mengapa kau repot sekali, sih?”

Ouch, well, innocent princess, kau yang memulai duluan. Aku sih tidak masalah dengan siapapun itu. Duh, itu kan private lifemu dan bla bla. Karena kau tak ingin aku terlibat dalam kasus ini sejak awal, maka jangan harap kau bisa melibatkanku ketika hal kecil memuakkan ini memakan hatimu hidup-hidup suatu hari. Kau tidak butuh aku, ‘kan? Nikmatilah semua hal salah yang tak pernah kau buat benar. Kau sungguh tak belajar dari apa yang telah kau alami, dan sekarang malah semakin banyak orang yang kau bohongi. Kau tidak malu, Dear?”

“Hah! Kau dendam sekarang?”

“Bagaimana aku bisa dendam padamu? Aku cuma ingin menertawaimu ketika semua hal akan tersimpan dalam kaset rusak dan kau mati-matian ingin membuangnya. Satu, dua, tiga, atau empat bulan kemudian, atau lima?

—aku ingin tahu.”

 

 

Oops, maaf aku tidak bisa memberikan doa yang bagus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s