Aku Tak Pandai

Aku tak pandai melukis, tapi aku pernah melukiskan bintang yang berkilauan.

Satu dari sekian banyak saraf otakku berseru, “Hai kau! Dirimu menemukan cinta. Apa kau tidak sadar?” Ya, tentu aku sadar. Aku sadar setelah bintang-bintang itu berkedip menyapaku dengan ramah. Aku melukis bintang sepanjang hari. Kulukis di kertas buku tulisku yang masih kosong, di dinding kamarku, di waktu-waktu senggangku, di setiap ingatanku sebelum jatuh tertidur di malam hari. Imajinasiku semakin liar hingga membawaku pada sebuah keserakahan paling fatal. Aku menginginkan bintang itu hanya untukku seorang.

Semakin lama aku berjalan, satu per satu jejak kakiku tak terlihat, terhapus genangan air sepanjang musim penghujan. Aku tak bisa memungkiri, bahwa hujanlah yang selama ini menghapus aliran airmataku tatkala bintangku tak berhasil kulukis lagi. Aku menyadari, aku tak pandai. Apapun usahaku, awalnya berhasil, namun semakin lama semakin menunjukkan bahwa aku tetap tak pandai. Aku tak lagi bisa melukis bintang yang berkilauan, entah yang kulukis kehilangan sinarnya, atau kehilangan bentuknya yang apik. Satu per satu rintik hujan menemaniku lagi, membasahiku lagi, membawaku pada renungan panjang di penghujung hari. Katanya, “Hai kau! Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ada banyak cinta yang bisa kau dapat. Menulislah kembali, disana kau menemukan banyak cinta, bahkan dapat membuat sendiri cinta yang kau inginkan.”

Kala itu aku hanya menatap sang hujan. Aku diam saja, tak menghiraukannya sama sekali. Aku mengambil selembar kertas, masih dengan keras kepala mencoba melukis bintangku bahkan kini kuberi warna dengan cat lukis. Dan aku menangis lagi, aku semakin kehilangan sinarnya, tertutup oleh cat yang semakin mengering. Kubuang kertas yang menyayat hati itu jauh-jauh. Diriku kacau, hujan tak henti-hentinya menghapus airmata kekalahanku.

Wahai cinta, aku telah kalah. Aku telah gagal menahanmu yang amat ingin melepaskan diri. Setelah perenungan panjang di suatu malam, aku menemukan satu hal. Ketika aku berhenti keras kepala menahanmu, aku merasa tenang. Dan selanjunya aku menemukan satu hal lagi,

Kau bukan cinta yang dahulu menemuiku. Cinta yang kutemui, selalu berkilauan, menyapaku dengan ramah, hangat di ingatanku.

Dan maaf, kau bukan. Mungkin kau milik seseorang lain yang salah menemuiku pada awalnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s